Bencana Saham Krakatau Steel PDF Print E-mail
Sunday, 14 November 2010 22:32

Wawancara DR. Rizal Ramli

“Bencana Saham Krakatau Steel”

METRO TV, Jum’at, 5 November 2010, pk.18:00.

___________________________________________

 

 

 

Redaksi:

Ada apa dibalik penawaran saham perdana PT. KRAKATAU STEEL ? Untuk membahas yang menarik ini telah hadir bersama saya ekonom senior Rizal Ramli,  dan juga ada pengamat pasar modal Adler Manurung.

Ini bang Rizal pakai baju hitam-hitam, kita memang sedang berduka sedang banyak bencana, apa memang bang Rizal memang begitu berduka ?

 

RR:                

Saya dan seluruh bangsa Indonesia betul-betul berduka dengan berbagai bencana ini, itulah sebabnya saya pakai baju dan dasi hitam. Saya juga berdoa mudah-mudahan segala dosa kita, dosa pemimpin dan rakyat kita diampuni oleh Allah Yang Maha Kuasa dan kita dibebaskan dari bencana yang tiada henti ini.

 

Redaksi:

Bang ditengah-tengah bencana yang memang bertubi tubi datang ada Wasior, ada Mentawai, ada Merapi, ada sesuatu yang pantas kita perhatikan yakni pelepasan saham perdana PT. Krakatau Steel. Sudah ada penjelasan dari pak Menko Perekonomian, “berikan keterangan selengkap-lengkapnya kepada masyarakat”, ada juga penjelasan yg diberikan oleh menteri BUMN. Cukupkah sebetulnya apa yang dilakukan oleh pemerintah itu?

 

RR:                

Sayangnya tidak ! Karena penjelasannya tidak didukung oleh fakta-fakta sehingga menimbulkan banyak spekulasi. Tapi yang paling penting, kasus dan keinginan untuk menjual Krakatau Steel ini bukan yang pertama. Dulu waktu pemerintahan Habibie juga mau dijual. Yang akan membeli perusahaan di Karibia dengan modal hanya US$ 100 ribu. Waktu itu diramaikan, akhirnya batal. Tahun 2008, saya ditelepon oleh Presiden Komisaris dari Krakatau Steel pada waktu itu, pak Ruki yang sekarang Wakil Ketua BPK, dia katakan “mas Rizal, ini kita komisaris nggak bisa ngomong tapi Krakatau Steel mau dijual kepada investor strategic”, dan menurut pak Ruki ini nggak benar, ini perusahaan bagus sayang sekali dan pada waktu itu kami berbicara di DPR, berbicara dimedia, akhirnya penjualan itu dibatalkan.

 

Redaksi:

Kalau sekarang akan dilakukan penjualan saham pelepasan saham perdana PT. Krakatau Steel. Apa sebetulnya yang melatarbelakangi sejauh yang diketahui bang Rizal?

 

RR:

Saya sendiri agak bingung karena pada 2008 itu kami pelajari laporan keuangan Krakatau Steel, memang perlu ekspansi sekitar 2,5 juta ton karena permintaan didalam negeri terus meningkat. Tetapi untuk membiayai ekspansi, cukup dari retained earning dari Krakatau Steel dan keuntungannya kira-kira 1 triliunan, jadi kalau hanya perlu uang 250 juta dolar, saat ini sangat mudah didapatkan baik dari konsorsium perbankan dalam negeri ataupun dengan menerbitkan obligasi tanpa perlu menjual saham. Jadi sebetulnya masih ada opsi yang lain, kok ini ngotot mau jual? Jual, jual..!!! Saya ingin memberikan saran kepada Presiden SBY kalau mau menjual aset monggo.. silahkan, tapi tolong dijual aset-aset yang dibangun oleh pemerintah SBY. Jangan menjual aset yang dibangun dengan susah payah dulu oleh Presiden Soekarno, pakai pinjaman dari Rusia untuk Krakatau Steel, dilanjutkan oleh Pak Harto pakai pinjaman dari Jerman. Jangan begitulah, kalau mau jual, tolong jual aset yang dibangun oleh pemerintah SBY.

 

Redaksi:

Sekali lagi Bang Rizal, poinnya adalah sebetulnya industri strategis itu sebaiknya dijual atau tidak dijual sahamnya kepasar?

 

RR:

Sebaiknya industri strategis jangan. Kalau industri yang konsumer, toh sudah banyak swasta dalam negeri, dijual mungkin nggak ada masalah. Tapi khusus untuk industri-industri strategis seperti Krakatau Steel, saya kira pemerintah harus mencari jalan lain, jangan menggunakan cara-cara yang sangat merugikan. Di Amerika saja pernah Cina mau membeli Unocal dengan harga yang bagus, tapi Amerika menolak karena menurut pertimbangan strategis  tidak mau Cina menguasai industri minyak, akhirnya dibatalkan, walaupun transaksinya sudah nyaris jadi. Atau ada kasus dimana salah satu perusahaan dari Qatar ingin membeli pelabuhan di Amerika, akhirnya dibatalkan juga.

 

Redaksi:

Jadi poinnya, sebetulnya apakah sekarang ini dalam kasus Krakatau Steel seharusnya kita lihat kedudukan strategis, seperti apa strategisnya Krakatau Steel sehingga kemudian kita putuskan dijual atau tidak dijual seperti itu?

 

RR:

Kalau saya melihat apa yang sudah terjadi, jelas ada pat gulipatnya. Karena ada pejabat yang mengatakan ini price to book value nya lebih rendah dari perusahaan baja Inggris Mittal dll. Jangan lupa perusahaan seperti Mittal itu setiap kali nilai bukunya direvaluasi, disesuaikan dengan harga pasar. Banyak dari BUMN kita belum  pernah melakukan revaluasi, masih harga historis. Jadi kalau dilakukan revaluasi yang sungguh-sungguh, disesuaikan dengan harga pasar, maka book value-nya itu akan jauh lebih tinggi sehingga price book value-nya akan jauh lebih rendah dari Mittal maupun dari Exelcior. Pak Menko Ekuin mengatakan bahwa ini lebih mahal, saya mohon maaf karena kebanyakan BUMN Indonesia tidak pernah melakukan revaluasi. Oleh karena pertimbangan itu, saya sarankan kepada presiden SBY untuk membatalkan ini, kalaupun ada denda dan tuntutan tentu bisa diselesaikan dan jumlahnya sangat kecil. Krakatau Steel bisa mencari dana dari konsorsium perbankan dalam negeri atau dengan menerbitkan obligasi saat ini sangat mudah untuk melakukan hal tersebut.

 

Redaksi:

Tapi sestrategis apa sebetulnya Krakatau Steel dalam konteks industri kita sebetulnya bang Rizal?

 

RR:

Industri baja karena memang biaya investasinya yang mahal sering di satu negara hanya ada satu atau dua saja. Jadi sifatnya itu kalau nggak monopoli, ya oligopolistik, sehingga harganya itu sangat menguntungkan. Harganya itu premium diatas harga kompetitif, dalam pengertian ini sangat strategis. Yang kedua tentu terkait dengan industri persenjataan, industri barang-barang modal dan permesinan, menurut saya ini industri yang bagus, perkiraan permintaan dimasa yang akan datang juga sangat baik. Kalau hanya mencari 250 juta Dollar, menteri BUMNnya mengatakan tidak bisa, ya tidak usah jadi Menteri BUMN, itu pekerjaan sangat simple.

 

Redaksi:

Jadi banyak alternatif-alternatif lain yang bisa ditempuh untuk pendanaan dan pengembangan Krakatau Steel ?

 

RR:

Ya, betul.

 

Redaksi:

Dan kalau sekarang ini melihat pilihan untuk melakukan go public ini dianggap sesuatu yang terlalu merugikan bagi kepentingan bangsa kita?

 

RR:

Saya ingin berikan contoh pada saat saya Menko, PLN itu nyaris bangkrut. Direksinya minta gampang, minta disuntik utangnya diambil alih oleh pemerintah, kami tidak mau. Kami minta PLN melakukan revaluasi aset, karena harga-harga asetnya itu harga historis dari belasan tahun yang lalu, tidak pernah direvaluasi, hasilnya apa? Aset PLN naik dari Rp. 52 triliun menjadi Rp. 202 triliun. Modal PLN yang tadinya negatif, sudah nyaris bangkrut minus Rp. 9,1 triliun, naik menjadi Rp. 119,4 triliun dan PLN sehat sehingga bisa kembali menerbitkan surat hutang dan obligasi.

 

Redaksi:

Ini ada sesuatu yang menarik mengenai revaluasi aset dan rekayasa dari sistem keuangannya. Yang jadi pertanyaan saya, industri baja disemua negara itu ibarat the mother of the factory, negara-negara lain mengembangkan baja, metalurgi kemudian manusianya untuk membangun negaranya. Dimana kita melihat kondisi kita selama ini?

 


RR:

Omongan bung Karno itu sama dengan omongan Perdana Menteri Nehru di India, sama juga dengan pemimpin-pemimpin Cina dan mereka konsisten mengembangkan industri baja dan industri mesin. Karena dengan industri baja dan mesin bisa membuat mesin-mesin lagi, sehingga mereka bisa kuat secara teknologi dan industri. Dibandingkan dengan pengalaman Indonesia, kita itu membangun industri konsumen. Bahan baku kita mesti impor, komponennya mesti kita impor, kedalaman industri kita itu sangat rendah sangat shallow. Justru dengan adanya industri baja, industri mesin-mesin, baru Indonesia bisa menjadi negara yang maju.

 

Redaksi:

Bang Rizal pernah dipemerintahan, apakah memang kita tidak punya visi untuk membangun Indonesia sebagai negara industri yang kuat?

 

RR:

Ada dua school of thinking dipemerintahan, yang satu yang sangat percaya dengan mekanisme pasar dan menganggapnya sebagai agama, serahkan semua kepada mekanisme pasar. Kalau itu yang terjadi, pasar itu tentu memilih yang paling gampang yaitu memproduksi barang-barang yang hanya dibutuhkan oleh konsumen. Coba bayangkan Indonesia produksi mobil 600 ribu unit penjualannya per tahun. Korea dulu waktu pertama membangun industri mobil modalnya hanya pasar dalam negeri kurang dari 150 ribu unit. Dari modal pasar dalam negeri itu mereka bisa membangun industri mobil yang bisa ekspor kemana-mana. Kita karena memang tidak memiliki visi, 600 ribu itu cuma lines assembly hanya untuk jadi konsumen. Jadi para ekonom dan pejabat yang berpikir pasar itu adalah segala-galanya, akhirnya hanya akan membuat bangsa kita ini menjadi bangsa konsumtif.

 

Redaksi:

Kelompok yang satu lagi kalah dalam pertarungan school of  thinking tadi pak?

 

RR:

Kalah, karena mereka dibantu oleh kekuatan asing oleh IMF dan Bank Dunia. Sementara pikiran-pikiran bahwa Indonesia memerlukan kekuatan sendiri, baru menguat setelah dua tahun terakhir, mulai tumbuh dan bangkit kembali.

 

Redaksi:

Kalau bang Rizal sendiri apa kemudian solusi terbaik yang bisa kita tempuh dalam kasus Krakatau Steel?

 

RR:

Dalam kasus Krakatau Steel, saya menghimbau kepada presiden SBY hentikanlah proses IPO ini, karena Bapak tidak berhak. Ini dulu dibangun dengan susah payah oleh Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Untuk membiayai pengembangan ekspansi penambahan kapasitas Krakatau Steel 2,5 juta ton atau sekitar 250 juta Dollar bisa dengan menarik pinjaman atau menerbitkan obligasi dan toh sudah ada retained earning yang lumayan dan sudah ada cash flow Krakatau Steel yang cukup bagus. Permintaan dimasa depan terhadap produk baja, itu lumayan tinggi. Dengan itu Pak Presiden SBY akan diingat sebagai seorang pemimpin yang baik, yang tahu cara untuk mengembangkan BUMN. Saya ingat dulu satu contoh waktu saya Menko, pemerintah perlu uang, yang paling gampang kan jual saham Telkom atau Indosat, tapi itu tidak kami lakukan. Kami pisahkan cross ownership dan cross-management antara Telkom dan Indosat. Akibat dari langkah ini pemerintah menerima pajak daripada transaksi cross over dan selisih revaluasi. Pemerintah terima 4 triliun rupiah tanpa menjual satu lembar sahampun.

 

Redaksi:

Jadi banyak cara untuk jalan keluarnya?

 

RR:

Banyak cara, jadi kalau menterinya hanya bisa sekedar jual aset, kasihan Republik ini.

 

Redaksi:

Tapi kalau dengan pengalaman kita telah menjual INDOSAT segala macam itu, apakah kemudian itu ada kekeliruan yang harus dijadikan pelajaran supaya tidak terulang lagi?

 

RR:

Sangat besar, INDOSAT kita jual dengan harga murah, harganya sekarang enam kali atau tujuh kali lebih tinggi dan fungsi strategis daripada telekomunikasi Indonesia juga sudah dikuasai oleh asing.

 

Redaksi:

Kalau pemerintah tetap jalan apa yang harus dilakukan sebaiknya oleh pemerintah?

 

RR:

Ini menunjukkan pemerintah tidak cerdas. Karena kerugian bisa dihitung dari denda atau tuntutan hukum dengan kerugian yang akan terjadi. Kalau ini dilakukan itu sangat kecil. Yang kedua, Krakatau Steel punya arti strategis, jangan semua asal jual. Saya dulu ingat waktu zaman ibu Megawati, menteri yang sama, menteri yang dari neoliberal menyarankan untuk menjual lapangan terbang Soekarno-Hatta. Saya telepon keluarga Bung Hatta apakah setuju dijual? Keluarga Bung Hatta mengatakan, mereka setuju asal yang dijual bagian Soekarno saja. Kemudian saya bikin wawancara jadi headline di koran sore, saya katakan kalau pemerintah Megawati mau jual silahkan jual bagian Soekarno saja. Syukur alhamdulillah mbak Mega cukup responsif dan mengerti dan membatalkan. Saya dengar sekarang juga menteri BUMN mau jual Cengkareng, saya mau menyarankan kalau mau jual, jual yang pemerintah SBY bangun, jangan yang Bung Karno atau Presiden sebelumnya bangun.

 

Redaksi:

Bang, apakah ini persoalan gengsi juga, katanya kalau sudah go public, listing dipasar modal, apalagi bisa di New York itu kemudian gengsinya lebih tinggi?

 

RR:

Kita kan bukan hidup dari gengsi. Selama return di Indonesia menarik, investor asing akan datang kok. Selama ini return di Indonesia relatif menarik, tinggi dibandingkan di Eropa,  dibandingkan di Amerika. Ini mental-mental cara berpikir kerdil. Cobalah berpikir lebih besar, kita ini bangsa yang besar harus punya pikiran yang besar. Jadi begini, sebagusnya pemerintah ini mampu meningkatkan nilai aset ! Ini meningkatkan tidak bisa, kok malah ngurangin. Jadi jangan begitu dong, kalau tidak bisa nambah aset, ya jangan ngurangin. Terima kasih. ***

 

 

 
Main page Contacts Search Contacts Search